Surya Sahetapy

Anak dari Dewi Yull dan Ray Sahetapy yang lahir pada 21 Desember 1993. Surya mengalami ketulian pada telinga kanannya memiliki tingkat ketulian 105 desibel dan telinga kirinya 115 desibel (Normal = 0-20 desibel).

Sadar sistem pendidikan di Indonesia kurang ramah untuk siswa berkebutuhan khusus, Surya memilih sekolah menengah atas dengan homeschooling. Dia juga mulai diperkenalkan oleh kakaknya, Gisca, dengan komunitas Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin). Di komunitas tersebut, Surya belajar bahasa isyarat Indonesia (Bisindo). Bisindo berbeda dengan sistem isyarat bahasa Indonesia (SIBI). Sebab, SIBI diadopsi dari bahasa isyarat di Amerika Serikat yang memiliki aturan soal imbuhan. Akibatnya, SIBI dianggap ribet. Beda halnya dengan Bisindo yang memiliki sistem seperti bahasa obrolan sehari-hari.

Setahun kemudian, dia diundang menjadi pembicara di XVII World Congress of The World Federation of The Deaf di Istanbul, Turki. Surya mengangkat topik Obstacles and Opportunities in Deaf Youth Leadership Initiative in Indonesia. Sedangkan tahun ini dia mengikuti program petukaran pelajar tuna rungu ke Amerika Serikat 6 Juni sampai 19 Juni 2016. Selain belajar, Surya mengikuti konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang membahas Undang-undang Disabilitas.